AJARAN FILSAFAT JAWA UNTUK KITA

AJARAN FILSAFAT JAWA UNTUK KITA

Filsafat itu apa? Dari sejarahnya yang panjang setidak-tidaknya orang akan mendapatkan 5 kandungan maknawi filsafat.Pertama, Pengantar Hikmah. Disini orang menjadi lapang dada; pendirian kokoh, namun lentur, sehingga beban terasa ringan; ingatan pun meninggi, sehingga urutan kejadiannyapun benar,””Beserta kesulitan itu kemudahan”.Dengan begitu orang akan siap berprestasi.Untuk makna yang pertama ini, Orang jawa mengemasnya dalam filsafat UDENG/Mudheng.Puncaknya ialah sosok Darmakusuma atau lebih jelas lagi SAMI-AJI, lambing Ratu adil, raja tanpa mahkota, bahkan memakai UDHENG (destar/ikat kepala, yang didalamnya tersimpan “Kesaksian Awal-Akhir/lahir Batin”, yakni layang Kalimasada/kalimah syahadat).
AJARAN FILSAFAT JAWA UNTUK KITA
Badan njaba wujud kita iki
Badan njero munggwing jroning kaca
Ananging dudu pangilon
Pangilon jroning kalbu
Yeku wujud kita pribadi
Tinitah jro panyipto
Ngeremken pandulu
Luwih gede berkahira
Lamun Janma wus gambuh ing badan batin
Sasat SRIRA BATHARA
(Serat Dewa-Ruci)

Pengantar Kutipan tersebut diatas adalah salah satu bait serat Dewa-Ruci, yang terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia, kurang lebih adalah sebagai berikut : (Badan luar/lahir/fisik kita ini, Adalah badan didalam kaca, namun bukannya cermin melainkan didalam Cipta, Sambil memejamkan mata, sungguh lebih besar barokahnya, manakala manusia sudah mengenal dengan betul Badan batin, Seolah-olah Badan cahaya). Psikologi jawa itu bukan “Trikhotomi”, melainkan “dikhotomi”, karena Cipta dan rasa itu menyatu, dengan sosok miring/gambar -wayang-nya adalah arjuna, sedangkan karsanya dilambangkan Bima.Orang jawa yang cipta-rasanya dominan, seyogyanya mengambil lakon Cipta-Hening/Arjuna-Wiwaha sebagai acuan hidup; sedangkan kalau yang dominant itu karsanya, dipersilahkan mendalami serat Dewa-ruci.Mereka yang akrab dengan persoalan-persoalan Filsafat, tentu segera merasakan nuansa Eksistensialisme Sartre, dengan Being-In-Itself serta Being-For-Itself, antara bayangan dalam cermin serta cermin tanpa bayangan/Being and Nothingness (Sartre, 1943).

Kedua, Sistem hakikat, mencakup syariat yang informative, Tarekat yang transformative, Hakekat yang konformaatif, serta makrifat yang illuminatif.Halnya tersimpul dalam Dentawyanjana, Sistem alphabet, Neng-ning-Nung-Nang/kakang kawah, adhi Ari-ari/Kakangne mBarep-Adhine Wuragil.Keempat, Pandangan hidup demi hidup abadi.(Tanggal pisam kapurnaman), Kelima, Induk segala pengetahuan, Mbobot”Firman yang membadan”/Jiwa kang kajawi.

Pokok-pokok Bahasan Garis-garis besar bahasannya akan mencakup 7 hal : 1) Penelusuran Nilai filsafat jawa; 2) Filsafat Jawa diantara filsafat Etnis lainnya; 3) Karakter manusia Jawa; 4) Karakter pemimpin jawa;5) Filsafat Jawa dan pencerahan; 6) Titik singgung Filsafat jawa dalam pembangunan; 7) Kontribusi filsafat Jawa dalam pembentukan karakter Bangsa dan Negara.

Sementara itu perlu diingat bahwa ketika filsafat lahir pertama kali di Ionia (Yunani Kuno), maka mitologi lalu diganti oleh Pencerahan akal budi. Atlas yang semula adalah Dewa penyanga bumi, menjadi peta bumi.Ketika pancasila lahir pada tanggal 1 juni 1945, apakah sejak saat itu Mitos lalu “Lenyap”? Apakah tahapan Metafisis-Ontologis menggantikan mitologi) sementara itu Negara Barat bahkan telah mencapai tahapan ilmiah-Fungsional? (Peursen, 1988). Ada 2 jawaban hipotetik terhadap problema demikian itu. Pertama dibalik mitologi tradisonal terdapat nilai-nilai yang perlu digali; kedua, kadar kajian kefilsafatan tidak berkembang atau bahkan rudiment, sampai-sampai kita sekedar ikut modernitas namun hanya sebagai pelengkap pelaku atau bahkan Pelengkap penderita.Maka perlu penegasan karakter ketimuran kita, agar kita tidak malah menjadi obyek penderita residu Modernisme Barat. Rentangan diakhronik sinkhronik pencerahan ke Budhaan di Timur segelombang dengan momentum munajatnya Nabi Musa, kalimullah, a.s., namun Dunia belum memahami bahasa RUH apalagi Bahasa terpuji sebagai suatu system. Filsafat Jawa untuk Indonesia, bahkan untuk dunia mengandung potensi mBobot RUH (“Jiwa kang kajawi”’ bahkan Hamemayu Hayuning’Rat”. (baca lampiran : BERJALAN DI TEMPAT)

Kearifan local (Jawa, Sunda, Bali, Minang, Batak, Aceh, Borneo, Bugis, Maluku, Papua, dan suku-suku lainnya)demi”mata-Air”-nya yang jernih harus tetap dijaga Muara Besarnya yang satu dan sama, yakni Lautan Indonesia demikian pula kesepakatan kita bersama disertai TUAH SAKATO-nya yakni pancasila dengan inti Filsafat Gotong-Royongnya harus bermuara pada skala Glonal-Universal, yang tidak lain adalah FILSAFAT ORGANISME/Filsafat proses (Witehead, 1979) yang memandang semeta itu sebagai berstruktur (Lahir-Batin) dan berproses (Awal-akhir). Dalam hal kajian structural itu Filsafat Jawa mengemasnya dalam ajaran Pamoring Kawula-Gusti, sedangkan mengenai kajian proses-fungsionalnya, Sangkan-Paraning Dumadi.(Wedyodiningrat, 1952)

Penelusuran Nilai Filsafat Jawa Bahwa filsafat jawa itu mengandung nilai berskala Dunia, terbukti dengan diakuninya beberapa Global Cultural Heritage, yakni Borobudur, Tosan aji, serta Pergelaran wayang Purwa.Borobudur yang dalam Babad tanah jawi disebut sebagai “Bangunan seribu Ksatriya terkurung dalam snagkar”, menyadarkan tema Pencerahan yang membebaskan, yakni Ruh dari kurungan Spasial & Temporal, “Jiwa kang kajawi”. Dengan demikian pendapat bahwa manusia itu mikrokosmis, sementara alam ini makrokosmis sudah semestinya dikoreksi; benar manusia itu mikrokosmis dalam hal tubuh jasmaninya, sementara Ruh itu urusan-Nya.Antara yang mikro dan yang makro itu terdapat sekat, hijab/kelir tanpa batas (menurut umar khayyam), yang menurut filsafat jawa disebut “Aling-aling”. Mereka yang bersekutu dengan “aling-aling” disebut maling. Inilah pangkal penyakit social, yakni korupsi.Perilaku koruptor itu sesungguhnya mendholimi diri sendiri.Pernyataanya “Aku ambilnya mumpung tidak ada orang”, membatalkan dirinya sebagai orang dan karenanya tertutuplah kesempatan “Kalenggahan”’ “Jumenengan”pamoring kawula-Gusti.

Bagaimana halnya dengan filsafat dibalik Tosan Aji, agar orang bersifat “Kandel” Kalingga-murda, dapat dipercaya sebagai andalan dalam kehidupan bersama, atau bahkan menjadi personifikasi sebagai SANG AJI ? tentu saja memilih dan memilah ‘guru bakal”, guru dadi”’ bakale/begitu bahannya demikian pula bakale/nanti jadinya, yakni memilih bahan yang anti karat, kalis dari segala yang mengotori.Bahwa dalam kamus Tosan Aji dikenal besi Akhidiat, memberi pelajaran pentingnya archetypus illahi dari laku “adeg-adeg”, ngadeg-jejeg, bahkan madeg-pribadi. Bahan pilihan itupun masih harus ditempa gara luluh dengan pamor “langit” dari meteor, sebagai lambang Ajaran Jawa, “Pamoring Kawula-Gusti”’ baik dalam makna”immanensi” curiga manjing warangka) ataupun Transcendensi (“Warangka manjing Curiga”). Agar nyatalah keindahan “pamor”nya, maka warangkanya harus berlalu, ngunus curiga, demi “Jiwa kang kajawi”’ Sejatosing boten wonten punopo-punopo , kajawi kang kajawi/sejatine ora ana apa-apa, kajaba kang kandha.Itulah lakon MURWA-KANDHA/MURWA-KALA, tuntunan dibalik tontonan Wayang Purwa.

Lakon mengurai keruwetan/”Ruwatan”, baik itu dengan totntonan wayang Purwa dengan lakon Murwakala ataupun Pukulan sarung Gada Inten, ternyata malah harus dengan dikoreksi, dengan reformasi Dentawyanjana (Sistem Alfabet Jawa) sesuai dengan kekeliruan hal ihwal “waktu” (KALA) yakni “kama salah tetes” menjadi KAMA BATHARA.Ketika Bathara kala dipukul dengan sarung Gada inten, maka berkeping-kepinglah dirinya menjadi “Kala-bang”/Terorisme, “Kala Menthel”/Hedonisme, “Kala”/Laso, jerat Hutang piutang, yang ternyata sampai kini malah makin merajalela.

Filsafat jawa sebagaimana yang tersirat berupa “tuntunan” dibalik Tontonan Wayang Purwa/dibalik wayang kulit memperlihatkan bahwa manusia jawa sungguh-sungguh menekuni Libido-Sexualis di balik kisah Ramayana, serta Libido-Maortalitas dibalik kisah Maha-Barata umumnya, Barat-Yuda khususnya. Kisah perangnya perang atau perang besar antara Kurawa dan pandhawa itu bukan lagi perang saudara, melainkan transformasi diri dari diri Ontoseno (“Air”) yang penuh keikhlasan transformasi diri dari Nar ke Nur/Wisanggeni, sementara Tirta sublimatif menjadi NIRTA.Hakikatnya ialah REVOLUSI SPIRITUAL, tanpa huru-hara apalagi berdarah-darah (Jacob, 2004). Itulah sebabnya maka pertunjukan wayang kulit/Purwa, diawali dan diakhiri dengan ditegakkannya Gunungan/kayon.Filsafat Kayon/Gunungan tadi bukan hanya sebagaimana namapak pada ungkapan SRI-GUNUNG serta SRI-TAMAN, Melainkan bahkan menggapai kejiwaan syukuran bagi para pemimpin sebagaimana yang dipergelarkan GUNUNGAN (kakung 7 putri), yang istilah resminya untuk memperlihatkan bahwa pemimpin itu yakni mereka yang berkelapangan itu syukurannya bergunung-gunung, ialah “Ancala”/gunung putra & ancala putri sehingga sistemnya memungkinkan laku “Mancala-putra &Mancala putri, dalam arti terbukanya kesempatan seluas-luasnya bagi angkatan muda untuk mendapatkan lapangan pekerjaan khususnya, aktualisasi diri pada umumnya.

Terhadap kritik yang mengatakan bahwa filsafat jawa itu serba lambat, sebagaimana nampak pada pedoman “Alon-alon waton klakon” yang dalam bahasa indonesianya ialah “Biar lambat asal selamat” sebagai sesuatu yang menghambat pembangunan , semuanya itu seharusnya “Empan-papan, kala-mangsa, lambe asti, duga prayaga, eguh-tangguh”. Itulah sisi Evolusionitisnya; padahal disisi lain Filsafat Jawa itu juga Revolusiner, sebagaimana nampak pada ungkapan TANGGAL SEPISAN KAPURNAMAN, yang berarti baru tanggal satu sudah terang bulan, sebagaimana juga pada perbuatan menenun : SENTEG PISAN ANIGASI, menggerakkan alat tenun sekali, begitu langsung memotong benang terakhir yang evolusionistis itu yang lahir/Rakyat sementara yang Revolusioner itu Batin/Jiwa/Pemimpin.


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2011-2020 JURUGAN INFO | All Right Reserved