-->

Jenis-Jenis Kembang dalam Bahasa Jawa Lengkap dan Maknanya

Jenis-Jenis Kembang dalam Bahasa Jawa Lengkap dan Maknanya. Berikut ini penjelasan lengkap tentang jenis-jenis kembang (bunga) dalam Bahasa Jawa, beserta nama bunga, makna simbolisnya dalam budaya Jawa, serta fungsinya dalam upacara adat, spiritual, atau keseharian masyarakat Jawa.

Jenis Kembang dalam Bahasa Jawa Lengkap

Dalam budaya Jawa, kembang tidak hanya berarti bunga secara harfiah, tetapi juga mengandung makna simbolis dan fungsi spiritual, seperti untuk sesaji, ritual, pernikahan, hingga simbol kehidupan.

Daftar Nama Kembang dalam Bahasa Jawa dan Artinya

Bahasa JawaBahasa IndonesiaMakna Filosofis / Fungsi
Kembang MelatiBunga MelatiKesucian, keharuman hati, lambang cinta suci
Kembang KenangaBunga KenangaWibawa, pengaruh spiritual, sering untuk ruwatan
Kembang MawarBunga MawarCinta, keindahan, daya tarik
Kembang KantilBunga Cempaka PutihKesetiaan, spiritual tinggi, penjaga gaib
Kembang TanjungBunga TanjungKeharuman nama, ketenangan batin
Kembang SepatuBunga SepatuSimbol semangat, sering digunakan hiasan
Kembang TelonCampuran melati, kenanga, mawarDigunakan dalam ritual dan upacara
Kembang WijayakusumaBunga Wijaya KusumaKemenangan, keberuntungan, jarang mekar
Kembang Sedap MalamBunga Sedap MalamKeharuman yang abadi, lambang cinta dan duka
Kembang RosBunga Mawar (variasi nama)Estetika dan kasih sayang
Kembang PuspaBunga Puspa / bunga-bungaanKecantikan, lambang wanita
Kembang KambojaBunga KambojaSering dipakai di pemakaman, lambang abadi

Kembang Setaman: Campuran Bunga untuk Ritual

Dalam tradisi Jawa, dikenal istilah kembang setaman yaitu campuran bunga-bunga yang digunakan untuk:

  • Ziarah kubur

  • Siraman pengantin

  • Ritual tolak bala

  • Sesajen / sesaji

Umumnya terdiri dari:

  • Melati

  • Mawar

  • Kenanga

  • Kantil

Masing-masing bunga membawa makna spiritual yang diyakini memperkuat energi positif.

Kembang dalam Upacara Adat Jawa

UpacaraKembang yang DigunakanTujuan
Siraman (mandi calon pengantin)Kembang setamanPenyucian lahir dan batin
MidodareniKembang melati & kenangaMenghadirkan aura Dewi-dewi
RuwatanKembang kantil & tanjungMenolak nasib buruk
Tedhak Siten (anak turun tanah)Kembang setamanDoa untuk masa depan anak
Nyekar (ziarah kubur)Kembang setamanMenghormati arwah leluhur

Makna Filosofis Bunga dalam Budaya Jawa

Dalam falsafah Jawa, bunga atau kembang adalah simbol dari:

  • Keharuman nama dan perbuatan

  • Kesucian niat dan tujuan hidup

  • Keselarasan dengan alam dan leluhur

  • Peralihan hidup (lahir, menikah, mati)

Contoh Ucapan dalam Bahasa Jawa yang Mengandung “Kembang”

  • “Wus mekrok kembang atiné” → Hatinya sudah mekar (jatuh cinta)

  • “Kembang desa” → Gadis tercantik di desa

  • “Uripmu kudu koyo kembang, nyebar keharuman” → Hidupmu harus seperti bunga, menyebar kebaikan

Penutup

Kembang dalam budaya Jawa bukan hanya sekadar bunga, tapi merupakan bagian penting dari simbol kehidupan, spiritualitas, dan identitas budaya. Penggunaan dan pemaknaan bunga dalam upacara adat Jawa menunjukkan betapa dalamnya filosofi orang Jawa terhadap alam dan kehidupan.

Kata Mutiara Bahasa Jawa Lengkap dan Artinya

Berikut ini adalah kumpulan kata mutiara dalam Bahasa Jawa lengkap dengan artinya dalam Bahasa Indonesia, yang mencakup berbagai tema kehidupan seperti kesabaran, cinta, kerja keras, kebaikan, dan filosofi hidup ala Jawa.

Kata-kata ini cocok digunakan untuk motivasi harian, caption media sosial, materi pelajaran Bahasa Jawa, atau sebagai renungan hidup.

Kata Mutiara Bahasa Jawa Lengkap dan Artinya

1. Tentang Kesabaran dan Kehidupan

Bahasa JawaArti Bahasa Indonesia
"Urip iku mung mampir ngombe."Hidup itu hanya singgah untuk minum (hidup itu sementara).
"Sabar iku luhur drajate."Sabar itu derajatnya tinggi.
"Sing sapa sabar bakal tinemu kabegjan."Siapa yang sabar akan bertemu kebahagiaan.
"Witing tresna jalaran saka kulina."Cinta tumbuh karena terbiasa.
"Urip iku kudu eling lan waspada."Hidup itu harus ingat (Tuhan) dan waspada.

2. Tentang Semangat dan Kerja Keras

Bahasa JawaArtinya
"Jer basuki mawa bea."Keberhasilan membutuhkan pengorbanan.
"Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake."Berjuang tanpa kekerasan, menang tanpa merendahkan.
"Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti."Kekuatan dan kekerasan bisa dikalahkan dengan kasih sayang.
"Kudu wani rekasa sadurunge bisa."Harus berani bersusah payah sebelum bisa.
"Tetep eling lan waspada ing saben lakumu."Selalu ingat dan waspada dalam setiap langkah hidupmu.

3. Tentang Cinta dan Perasaan

Bahasa JawaArtinya
"Tresno iku ora kudu nduweni."Cinta itu tidak harus memiliki.
"Katresnan sejati ora bakal luntur dening wektu."Cinta sejati tak akan pudar oleh waktu.
"Wong sing setya ora bakal ninggal wektu susah."Orang yang setia tidak akan meninggalkan di masa sulit.
"Tresno ora bisa dipeksa, kudu saka ati."Cinta tidak bisa dipaksakan, harus dari hati.

4. Tentang Ilmu dan Kebijaksanaan

Bahasa JawaArtinya
"Ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana."Harga diri seseorang ada pada ucapannya, harga fisik ada pada penampilannya.
"Gusti Allah ora sare."Tuhan tidak pernah tidur.
"Sepi ing pamrih, rame ing gawe."Tidak mengharap imbalan, rajin bekerja.
"Ngunduh wohing pakarti."Menuai hasil dari perbuatan.
"Urip iku kudu migunani tumrap liyan."Hidup itu harus berguna bagi orang lain.

5. Tentang Rendah Hati dan Kebaikan

Bahasa JawaArtinya
"Endahing raga iku ora ana gunane tanpa endahing budi."Keindahan fisik tidak ada artinya tanpa akhlak yang baik.
"Aja dumeh."Jangan sombong atau merasa paling hebat.
"Aja gumunan, aja kagetan, aja dumeh."Jangan mudah heran, jangan mudah kaget, jangan sombong.
"Sapa sing nandur bakal ngundhuh."Siapa yang menanam, dia yang akan menuai.
"Luwih becik ngalah tinimbang gawe reged atine wong liya."Lebih baik mengalah daripada membuat hati orang lain kotor.

Tips Penggunaan Kata Mutiara Jawa:

  • Bisa digunakan sebagai caption media sosial (Instagram, FB, WhatsApp)

  • Cocok untuk pembuka pidato / sambutan dalam Bahasa Jawa

  • Sebagai ajaran karakter di sekolah atau keluarga

  • Diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar lebih bijaksana


Keris: Warisan Budaya Nusantara yang Sarat Makna

Artikel berikut akan membahas tentang Keris: Warisan Budaya Nusantara yang Sarat Makna. Pelajari sejarah, makna, dan jenis-jenis keris, warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO. Lengkap dengan bagian-bagian keris dan filosofinya.

Apa Itu Keris?

Keris adalah senjata tradisional berbentuk tikaman dengan bilah yang khas, seringkali berlekuk (luk), dan memiliki nilai historis, artistik, serta spiritual. Keris bukan sekadar senjata, melainkan simbol status sosial, identitas budaya, dan alat spiritual di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, Madura, dan Sumatera.

Pada tahun 2005, keris resmi diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, atau warisan budaya tak benda dunia dari Indonesia.

Asal Usul dan Sejarah Keris

Sejarah Awal

Asal-usul keris diperkirakan berasal dari abad ke-9 hingga ke-14 Masehi, dengan pengaruh kuat dari budaya Hindu-Buddha. Beberapa artefak awal keris ditemukan di kawasan Kerajaan Majapahit dan Mataram Kuno.

Keris awalnya digunakan sebagai senjata perang, namun dalam perkembangannya menjadi simbol kekuasaan, kebangsawanan, dan benda pusaka.

Bagian-Bagian Keris

  1. Pesi – batang keris yang masuk ke gagang (pegangan)

  2. Ganja – semacam alas bilah keris, sering berbentuk unik

  3. Dapur – bentuk atau tipe bilah keris, ada ratusan jenis

  4. Pamor – motif logam pada bilah, hasil dari lipatan logam dengan teknik tempa

  5. Warangka – sarung keris, biasanya terbuat dari kayu berkualitas tinggi

  6. Ukiran – gagang keris, biasanya diukir dengan detail artistik

Makna Filosofis Keris

Keris bukan sekadar senjata, tapi sarat dengan makna filosofis dan simbolis, antara lain:

  • Keberanian dan kekuatan (dalam konteks perang dan perlindungan)

  • Kebijaksanaan dan spiritualitas (terutama dalam budaya Jawa dan Bali)

  • Kelas sosial (keris bangsawan lebih artistik dan penuh ornamen)

  • Warisan leluhur (keris pusaka sering diwariskan lintas generasi)

Jenis-Jenis Keris Berdasarkan Luk (Lekukannya)

Jumlah LukKarakteristik
Lurus (tanpa luk)Melambangkan ketegasan, kejujuran
3 lukAwal dari pencarian spiritual
5–13 lukTiap jumlah punya makna tersendiri, seperti kebijaksanaan, kewibawaan, perlindungan
Luk 29 (terbanyak)Biasanya dimiliki oleh raja atau tokoh spiritual tinggi

Pamor: Seni di Balik Bilah Keris

Pamor adalah motif atau corak unik pada bilah keris yang terbentuk dari perpaduan logam, seperti nikel dan besi. Setiap pamor memiliki nama dan makna filosofis, contoh:

  • Pamor Buntel Mayit – perlindungan

  • Pamor Beras Wutah – kelimpahan rezeki

  • Pamor Udan Mas – simbol kemakmuran

Tidak semua pamor cocok untuk semua orang. Dalam budaya tradisional, pemilihan pamor disesuaikan dengan watak dan tujuan pemilik keris.

Fungsi Keris dalam Kehidupan

  1. Senjata – digunakan pada masa perang atau pertarungan.

  2. Simbol status – keris bangsawan berbeda dari milik rakyat biasa.

  3. Pusaka keluarga – diwariskan lintas generasi.

  4. Pelengkap busana adat – dalam upacara pernikahan atau resmi.

  5. Benda spiritual – dipercaya memiliki kekuatan gaib, pelindung, atau pembawa berkah.

Pembuatan Keris: Perpaduan Seni dan Spiritualitas

Keris dibuat oleh seorang Empu (pembuat keris tradisional) dengan teknik tempa yang rumit dan penuh ritual. Prosesnya bisa memakan waktu minggu hingga berbulan-bulan, melibatkan:

  • Pemilihan logam (besi, baja, nikel)

  • Proses tempa lipat berkali-kali

  • Penyatuan pamor

  • Pembentukan bilah dan luk

  • Pemberkatan atau ritual tertentu

Keris di Berbagai Daerah

WilayahCiri Khas
Jawa Tengah & YogyakartaKeris berestetika tinggi, penuh filosofi
MaduraKeris panjang dan tajam, gagang ukiran khas
BaliKeris penuh simbol religius, sering digunakan dalam upacara
Sumatera (Palembang, Minangkabau)Keris dengan pengaruh Melayu dan Islam
Bugis (Sulawesi)Disebut "badik", bentuk dan fungsi mirip keris

Jenis-Jenis Pamor Keris Lengkap dan Maknanya

Klasifikasi Pamor Berdasarkan Bentuk

Pamor keris dikelompokkan menjadi 3 jenis besar:

  1. Pamor Tiban
    ➤ Terbentuk secara alami saat penempaan tanpa direkayasa
    ➤ Dianggap sebagai pamor "pemberian alam" atau "tanda alamiah"

  2. Pamor Rekan
    ➤ Dibuat secara sengaja oleh empu sesuai dengan desain tertentu
    ➤ Biasanya mengandung makna dan maksud spiritual atau filosofis

  3. Pamor Campuran
    ➤ Kombinasi antara pamor tiban dan rekan

Daftar Jenis Pamor Keris Populer dan Maknanya

Nama PamorMakna / Filosofi
Beras WutahKemakmuran, rezeki melimpah, rumah tangga harmonis
Udan MasSimbol kekayaan & rezeki tak terduga seperti hujan emas
Wos WutahHampir mirip dengan Beras Wutah, berarti kelimpahan
Raja Abala RajaKewibawaan, cocok untuk pemimpin
Pulo TirtaKesejukan batin, damai, penuh ketenangan
Tunggak SemiPertumbuhan, cocok untuk yang memulai usaha / karier baru
Lar GangsirPerlindungan dari gangguan halus atau serangan spiritual
Sodo Sak LerKeteguhan hati, kejujuran, teguh pendirian
Ron GenduruKarisma, daya tarik tinggi, sering dipakai tokoh masyarakat
Buntel MayitProteksi tinggi, anti gangguan gaib, mistik tinggi
Melati RinonceKecantikan, keanggunan, cocok untuk perempuan
Naga RajaKekuasaan dan kepemimpinan spiritual
Lintang KemukusPopularitas, keberuntungan, jodoh dan cinta
Luk Lima (pamor khusus)Simbol keseimbangan spiritual & duniawi
Sepelet UdangPenarik simpati, cocok untuk profesi sosial atau pelayanan
TepenKerendahan hati dan kesederhanaan
Pandan WangiAura harum, cocok untuk penjagaan diri dan daya tarik
Raja NagaKekuatan spiritual tinggi, biasanya digunakan oleh empu / dukun
AdegSimbol kestabilan, kejelasan niat dan ketegasan
Banyu MiliRezeki terus mengalir, kelancaran dalam usaha
Kendal SodoKeteguhan dan kekuatan dalam menghadapi rintangan
Batu LapakKesabaran, kekokohan mental

Ciri-Ciri Visual Pamor

Pamor memiliki bentuk visual yang berbeda-beda. Beberapa berbentuk:

  • Garis lurus (adeg)

  • Garis melingkar (ron genduru)

  • Butiran (beras wutah, udan mas)

  • Motif bunga, naga, bintang (pamor langka/khusus)

Setiap empu biasanya mencocokkan pamor dengan:

  • Watak calon pemilik (emosional, kalem, pemimpin, dll.)

  • Tujuan penggunaan (perlindungan, pengasihan, wibawa, dagang)

Catatan Penting

  • Tidak semua pamor cocok untuk semua orang.
    Dalam budaya keris, pemilihan pamor sebaiknya mempertimbangkan watak dan tujuan pribadi.

  • Pamor langka seperti Udan Mas, Naga Raja, Melati Rinonce, sangat bernilai tinggi karena sulit dibuat.

  • Keris dengan pamor asli dan utuh biasanya bernilai koleksi tinggi dan dihormati dalam budaya tradisional.

Tips Memilih Pamor Keris

  1. Tentukan tujuan: spiritual, perlindungan, usaha, kharisma, dsb.

  2. Kenali diri sendiri: introvert/ekstrovert, tenang/agresif.

  3. Konsultasi dengan ahli keris (pamorologi atau empu berpengalaman)

  4. Hindari memilih pamor hanya karena "cantik" – penting untuk sesuai secara energi & karakter.

Pamor keris bukan hanya keindahan visual, tetapi juga merupakan karya seni spiritual yang mengandung doa, harapan, dan filosofi hidup. Mengenal jenis-jenis pamor adalah langkah penting dalam memahami makna terdalam dari keris sebagai pusaka Nusantara.

Pengakuan Dunia terhadap Keris

Tahun 2005, UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai warisan budaya dunia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Pengakuan ini memperkuat posisi keris sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa Indonesia.

Kesimpulan

Keris bukan hanya senjata tajam, melainkan warisan budaya Nusantara yang sarat nilai seni, filosofi, dan spiritualitas. Setiap keris memiliki cerita, makna, dan karakter yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.

Sebagai generasi penerus, kita wajib mengenal, menghargai, dan melestarikan keris — bukan hanya sebagai benda, tapi sebagai simbol jati diri bangsa.

Tokoh Pewayangan Pandawa Lima

Nama Tokoh Wayang Pandawa Lima - Dari sekian banyak tokoh dalam wayang, Pandawa Lima merupakan salah satu tokoh yang cukup populer dalam dunia pewayangan, Nama-nama Tokoh Pandawa Lima sebagai berikut:

PANDAWA LIMA


 1. PRABU YUDHISTIRA
yudhistira
PRABU YUDHISTIRA menurut cerita pedalangan Jawa adalah raja jin negara Mertani, sebuah Kerajaan Siluman yang dalam penglihatan mata biasa merupakan hutan belantara yang sangat angker. Prabu Yudhistira mempunyai dua saudara kandung masing-masing bernama ;Arya Danduwacana, yang menguasai kesatrian Jodipati dan Arya Dananjaya yang menguasai kesatrian Madukara. Prabu Yudhistira juga mempunyai dua saudara kembar lain ibu, yaitu ; Ditya Sapujagad bertempat tinggal di kesatrian Sawojajar, dan Ditya Sapulebu di kesatrian Baweratalun.Prabu Yudhistira menikah dengan Dewi Rahina, putri Prabu Kumbala, raja jin negara Madukara dengan permaisuri Dewi Sumirat. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Ratri, yang kemudian menjadi istri Arjuna.Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa berkat daya kesaktian minyak Jayengkaton milik Arjuna pemberian Bagawan Wilwuk/Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani. Prabu Yudhistira kemudian menyerahkan seluruh negara beserta istrinya kepada Puntadewa, sulung Pandawa, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti. Prabu Yudhistira kemudian menjelma atau menyatu dalam tubuh Puntadewa, hingga Puntadewa bergelar Prabu Yudhistira. Prabu Yudhistira darahnya berwarna putih melambangkan kesuciannya.
 2. BIMA atau WERKUDARA
b37_bima_indhu_solo1
Dikenal pula dengan nama; Balawa, Bratasena, Birawa, Dandunwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayusuta, Sena, atau Wijasena. Bima putra kedua Prabu Pandu, raja Negara Astina dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Bima mempunyai dua orang saudara kandung bernama: Puntadewa dan Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu ; Nakula dan Sadewa. Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur. Bima memiliki keistimewaan ahli bermain ganda dan memiliki berbagai senjata antara lain; Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta, sedangkan ajian yang dimiliki adalah ; Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu dan Aji Blabakpangantol-antol. Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu; Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain; Kampuh atau kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan pupuk Pudak Jarot Asem. Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta. Bima mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu :
1. Dewi Nagagini, berputra Arya Anantareja,
2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan
3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.
Akhir riwayat Bima diceritakan, mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuda.
3. ARJUNA
arjuna
Adalah putra Prabu Pandudewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita  putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura. Arjuna merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa. Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara.
Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa. Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Arjuna dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ; Gendewa ( dari Bathara Indra ), Panah Ardadadali ( dari Bathara Kuwera ), Panah Cundamanik ( dari Bathara Narada ). Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain ; Keris Kiai Kalanadah, Panah Sangkali ( dari Resi Durna ), Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kiai Sarotama, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni ( diberikan pada Abimanyu ), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton ( pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani ) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama.  Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah :
  1. Dewi Sumbadra , berputra Raden Abimanyu.
  2. Dewi Larasati , berputra Raden Sumitra dan Bratalaras.
  3. Dewi Srikandi
  4. Dewi Ulupi/Palupi , berputra Bambang Irawan
  5. Dewi Jimambang , berputra Kumaladewa dan Kumalasakti
  6. Dewi Ratri , berputra Bambang Wijanarka
  7. Dewi Dresanala , berputra Raden Wisanggeni
  8. Dewi Wilutama , berputra Bambang Wilugangga
  9. Dewi Manuhara , berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati
10. Dewi Supraba , berputra Raden Prabakusuma
11. Dewi Antakawulan , berputra Bambang Antakadewa
12. Dewi Maeswara
13. Dewi Retno Kasimpar
14. Dewi Juwitaningrat , berputra Bambang Sumbada
15. Dewi Dyah Sarimaya.
Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu ; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).
Arjuna juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara ( perayu ulung ) dan Margana ( suka menolong ).
Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah.
Arjunaa memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata.
Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia muksa ( mati sempurna ) bersama ke-empat saudaranya yang lain. 
4. NAKULA
nakula
Nang dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat) adalah putra ke-empat Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Nakula lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa (pedalangan Jawa), Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna. Nakula adalah titisan Bathara Aswi, Dewa Tabib. Nakula mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Nakula juga mempunyai cupu berisi, “Banyu Panguripan atau Air kehidupan” (tirtamaya) pemberian Bhatara Indra. Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Nakula tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu:
1. Dewi Sayati putri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan
    memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Bambang
    Pramusinta dan Dewi Pramuwati.
2. Dewi Srengganawati, putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa
    yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita,
    Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala)
    dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung.
Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik. Setelah selesai perang Bharatyuda, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa bersama keempat saudaranya.
5. SADEWA atau Sahadewa
sadewa
Dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Tangsen (buah dari tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan dan dipakai untuk obat) adalah putra ke-lima atau bungsu Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama kakanya, Nakula. Sadewa juga mempunyai tiga orang saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura, bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna. Sadewa adalah titisan Bathara Aswin, Dewa Tabib. Sadewa sangat mahir dalam ilmu kasidan (Jawa)/seorang mistikus. Mahir menunggang kuda dan mahir menggunakan senjata panah dan lembing. Selain sangat sakti, Sadewa juga memiliki Aji Purnamajati pemberian Ditya Sapulebu, Senapati negara Mretani yang berkhasiat; dapat mengerti dan mengingat dengan jelas pada semua peristiwa. Sadewa mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Sadewa tinggal di kesatrian Bawenatalun/Bumiretawu, wilayah negara Amarta. Sadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati, adik Dewi Srengganawati (Isteri Nakula), putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala). Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Bambang Widapaksa/ Sidapaksa). Setelah selesai perang Bharatayuda, Sedewa menjadi patih negara Astina mendampingi Prabu Kalimataya/Prabu Yudhistrira. Akhir riwayatnya di ceritakan, Sahadewa mati moksa bersama ke empat saudaranya.

KUMPULAN KATA MUTIARA BIJAK BAHASA JAWA

Kumpulan Kata Mutiara Bijak Bahasa Jawa, Kata Bijak Bahasa Jawa. Budaya Jawa merupakan warisan leluhur kita yang adhiluhung dan patut kita lestarikan supaya tidak hilang ditelan jaman. Generasi muda sekarang mungkin sudah jarang yang tau tentang kata mutiara jawa yang sangat keren, padahal mengandung makna dan nasehat luhur yang mendalam dalam kehidupan saat ini. 
Berikut ini adalah beberapa kumpulan kata mutiara bijak bahasa Jawa Pupuler yang dapat menjadi referensi.
KUMPULAN KATA MUTIARA BIJAK BAHASA JAWA

KUMPULAN KATA MUTIARA JAWA KUNO sebagai berikut:


Memayu hayuning pribadi; memayu hayuning kulawarga; memayu hayuning sesama; memayu hayuning bawana”. Berbuat baik bagi diri sendiri, keluarga, sesama manusia, makhluk hidup dan seluruh dunia.

 “Adigang, adigung, adiguno “. Jaga kelakuan, jangan somobong dengan kekuatan, kedudukan, ataupun latarbelakangmu.

“Urip kang utama, mateni kang sempurna”. Selama hidup kita melakukan perbuatan baik maka kita akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.

Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan”. Tuhan itu dekat meski kita tubuh kita tidak dapat menyentuhnya dan akal kita dapat menjangkaunya.

Mohon, mangesthi, mangastuti, marem”. Selalu meminta petunjuk Tuhan untuk meyelaraskan antara ucapan dan perbuatan agar dapat berguna bagi sesama.

“Aja mbedakake marang sapadha-padha”. Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesame manusia.

“Ora kena nglarani”. Jangan melukai orang lain.


“Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning Hyang sukmo”. Lakukan yang kita bisa, setelahnya serahkan kepada Tuhan.

“Tansah ajeg mesu budi lan raga nganggo cara ngurangi mangan lan turu”.
Kurangi makan dan tidur yang berlebihan agar kesehatan kita senantiasa terjaga

“Ambeg utomo, andhap asor”. Selalu menjadi yang utama tapi selalu rendah hati

Rela lan legawa lair trusing batin”. Ikhlas lahir batin
 
Manungsa mung ngunduh wohing pakarti”. Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri.

“Narimo ing pandum”. Menerima segala rintangan dengan ikhlas

Ala lan becik iku gegandhengan, Kabeh kuwi saka kersaning Pangeran”. Kebaikan dan kejahatan ada bersama-sama, itu semua adalah kehendak Tuhan.

Natas, nitis, netes”. Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan kita kembali.

Alam iki sejatining Guru”. Alam merupakan guru yang sejati.

“Golek sampurnaning urip lahir batin lan golek kusumpurnaning pati”. Kita bertanggung jawab untuk mencari kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.

Itulah Beberapa Kumpulan Kata Mutiara Bahasa Jawa, Kata Bijak Bahasa Jawa, silahkan Anda tambahkan sendiri... 

10 FILOSOFI HIDUP ORANG JAWA

SEPULUH FILOSOFI HIDUP ORANG JAWA. Begitu banyak ajaran budaya Jawa yang adi luhung dari para leluhur kita yang sudah sepantasnya kita uri-uri supaya tidak hilang karena tergerus perkembangan jaman yang serba modern.

10 FILOSOFI HIDUP ORANG JAWA
Nah sekedar untuk mengingat kembali atau sokor-skor bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita, berikut ini sepuluh (10) falsafah hidup leluhur Jawa yang dirangkum dari beberapa sumber:

 1. Urip Iku Urup
(Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik)


2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).


3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar) 


4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan) 


5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).


6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah ngambeg, jangan manja). 


7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi). 


8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka). 


9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat). 


10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)




Arane Dolanan Bocah Tradisional Jawa

Arane Dolanan Tradisional Bocah Jawa - Dolanan tradisional bocah Jawi kala rumiyen kathah sanget jenisipun, ananging generasi muda  sakpunika sampun kathah ingkang sami kesupen utawi sampun mboten mangertos amargi perkembangan jaman ingkang sansaya majeng. Kamangka budaya-budaya Jawi ingkang kathah saha adi luhung punika kedhah kita lestarekaken

Dolanan khas bocah-bocah Jawi meniko antawisipun :
  • Lithungan (Istilahipun wonten basa Indonesia petak umpet)
  • Blodor, wonten daerah sanes kasebat gobak sodor
  • Jagoan
  • Sudhamandha, dolanan ngagem gacok(saking gendheng bata) lajeng bocah lompat beto gacok miyos kotak-kotak bujursangkar
  • Cublak-cublak suweng
  • Dakon
  • Lumpatan, ngagem tali ingkang didamel saking karet dipun rangkai, lajeng digoceki kalih bocah loro, bocah liyane nglumpati tali ingkang dhuwure wiwit sak dhengkul dugi sak dedegan
  • Uthat
  • Pasar-pasaran (ngagem godhong-godhongan lan kembang sekitar omah)
  • Gatheng utawa bekelan
  • Dolanan kecik, saking isi sawo
  • Thung-thung balung
  • Lan sak panunggalanipun
Mugi saged dados penggalihan kito sedoyo, supados dolanan-dolanan bocah tradisional khas Jawi punika mboten sirna, paling mboten generasi sakmenika saget tepang lan mangertos bab kabudayan Jawi ingkang kathah sanget.

Nyuwun pangapunten menawi kathah tembung saha ukara ingkang dereng leres....kawulo aturi ngleresaken.....Matur nuwun

ARANE GODHONG-GODHONGAN LAN KEMBANG - SINAU BASA JAWA

Sinau Boso Jowo - Arane Godhong-godhongan lan Kembang seng saiki mesti wes akeh  seng lali opo malah wes ora ngerti blas hehe....

Arane Godhong-godhongan lan Kembang

Arane Godhong-godhongan

Godhong Asem : Sinom
Godhong Aren : Dliring
Godhong Cocor bebek : Tiba urip
Godhong Dhadhap : Tawa
Godhong Gebang : Kajang
Godhong Gedhang enom : Pupus
Godhong Gedhang tuwa : Ujungan
Godhong Gedhang garing : Klaras
Godhong Jati : Jompong
Godhong Jambe : Dedel/Pracat
Godhong Jarak : Bledheg
Godhong Kates : Gampleng
Godhong Kluwih : Kleyang
Godhong Kacang brol : Rendheng
Godhong Kacang lanjaran : Lembayung
Godhong Kelor : Sewu
Godhong Krambil enom : Janur
Godhong Krambil tuwa : Blarak
Godhong Lombok : Sabrang
Godhong Lempuyang : lirih
Godhong Mlinjo : So
Godhong Pring : Elarmanyura
Godhong Pari : Damen
Godhong Randhu : Baladhewa
Godhong Siwalan : Lontar
Godhong Tela : Jlegor
Godhong Tales : Lumbu
Godhong Turi : Pethuk
Godhong Tebu teles : Momol
Godhong Tebu garing : Rapak
Godhong Waluh : Lomah lamah

Arane Kembang

Kembang Aren : Dangu
Kembang Blimbing : Maya
Kembang Cubung : Torong
Kembang Cengkeh : Polong
Kembang Duren : Dlongop
Kembang Dhadhap : Celung
Kembang Garut : Grameng
Kembang Gori : Angkup
Kembang Ganyong : Puspanyidra
Kembang Gembili : Seneng
Kembang Gedhang : Ontong/Tuntut
Kembang Jambe : Mayang
Kembang Jati : Janggleng
Kembang Jagung : Jeprak/Sinuwun
Kembang Jambu : Karuk
Kembang Jarak : Juwis
Kembang Kopi : Blanggreng
Kembang Kacang : Besengut
Kembang Kara : Kepek
Kembang Kencur : Sedhet
Kembang Kanthil : Gadhing
Kembang Kelor : Limaran
Kembang Kapas : Kadi
Kembang Kecipir : Cethethet
Kembang Kluwih : Onthel
Kembang Krokot : Naknik
Kembang Krambil : Manggar
Kembang Lombok : Menik
Kembang Lamtoro : Jedhidhing
Kembang Mlinjo : Kroto
Kembang Nangka : Babal
Kembang Pete : Pendul
Kembang Pandhan : Pundhak
Kembang Pace : Nyreweteh
Kembang Pring : Krosak
Kembang Pohong : Ingklik
Kembang Randhu : Karuk
Kembang Salak : Ketheker
Kembang Suruh : Drenges
Kembang Tales : Pancal
Kembang Tebu : Gleges

Kembang Timun : Montro

Arane godhong lan kembang liyane terusno dewe..hehe...... 

© Copyright Since 2011 JURUGAN INFO TERBARU 2026 | All Right Reserved | Supported by: MENOREH MEDIA