-->

Keris: Warisan Budaya Nusantara yang Sarat Makna

Artikel berikut akan membahas tentang Keris: Warisan Budaya Nusantara yang Sarat Makna. Pelajari sejarah, makna, dan jenis-jenis keris, warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO. Lengkap dengan bagian-bagian keris dan filosofinya.

Apa Itu Keris?

Keris adalah senjata tradisional berbentuk tikaman dengan bilah yang khas, seringkali berlekuk (luk), dan memiliki nilai historis, artistik, serta spiritual. Keris bukan sekadar senjata, melainkan simbol status sosial, identitas budaya, dan alat spiritual di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, Madura, dan Sumatera.

Pada tahun 2005, keris resmi diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, atau warisan budaya tak benda dunia dari Indonesia.

Asal Usul dan Sejarah Keris

Sejarah Awal

Asal-usul keris diperkirakan berasal dari abad ke-9 hingga ke-14 Masehi, dengan pengaruh kuat dari budaya Hindu-Buddha. Beberapa artefak awal keris ditemukan di kawasan Kerajaan Majapahit dan Mataram Kuno.

Keris awalnya digunakan sebagai senjata perang, namun dalam perkembangannya menjadi simbol kekuasaan, kebangsawanan, dan benda pusaka.

Bagian-Bagian Keris

  1. Pesi – batang keris yang masuk ke gagang (pegangan)

  2. Ganja – semacam alas bilah keris, sering berbentuk unik

  3. Dapur – bentuk atau tipe bilah keris, ada ratusan jenis

  4. Pamor – motif logam pada bilah, hasil dari lipatan logam dengan teknik tempa

  5. Warangka – sarung keris, biasanya terbuat dari kayu berkualitas tinggi

  6. Ukiran – gagang keris, biasanya diukir dengan detail artistik

Makna Filosofis Keris

Keris bukan sekadar senjata, tapi sarat dengan makna filosofis dan simbolis, antara lain:

  • Keberanian dan kekuatan (dalam konteks perang dan perlindungan)

  • Kebijaksanaan dan spiritualitas (terutama dalam budaya Jawa dan Bali)

  • Kelas sosial (keris bangsawan lebih artistik dan penuh ornamen)

  • Warisan leluhur (keris pusaka sering diwariskan lintas generasi)

Jenis-Jenis Keris Berdasarkan Luk (Lekukannya)

Jumlah LukKarakteristik
Lurus (tanpa luk)Melambangkan ketegasan, kejujuran
3 lukAwal dari pencarian spiritual
5–13 lukTiap jumlah punya makna tersendiri, seperti kebijaksanaan, kewibawaan, perlindungan
Luk 29 (terbanyak)Biasanya dimiliki oleh raja atau tokoh spiritual tinggi

Pamor: Seni di Balik Bilah Keris

Pamor adalah motif atau corak unik pada bilah keris yang terbentuk dari perpaduan logam, seperti nikel dan besi. Setiap pamor memiliki nama dan makna filosofis, contoh:

  • Pamor Buntel Mayit – perlindungan

  • Pamor Beras Wutah – kelimpahan rezeki

  • Pamor Udan Mas – simbol kemakmuran

Tidak semua pamor cocok untuk semua orang. Dalam budaya tradisional, pemilihan pamor disesuaikan dengan watak dan tujuan pemilik keris.

Fungsi Keris dalam Kehidupan

  1. Senjata – digunakan pada masa perang atau pertarungan.

  2. Simbol status – keris bangsawan berbeda dari milik rakyat biasa.

  3. Pusaka keluarga – diwariskan lintas generasi.

  4. Pelengkap busana adat – dalam upacara pernikahan atau resmi.

  5. Benda spiritual – dipercaya memiliki kekuatan gaib, pelindung, atau pembawa berkah.

Pembuatan Keris: Perpaduan Seni dan Spiritualitas

Keris dibuat oleh seorang Empu (pembuat keris tradisional) dengan teknik tempa yang rumit dan penuh ritual. Prosesnya bisa memakan waktu minggu hingga berbulan-bulan, melibatkan:

  • Pemilihan logam (besi, baja, nikel)

  • Proses tempa lipat berkali-kali

  • Penyatuan pamor

  • Pembentukan bilah dan luk

  • Pemberkatan atau ritual tertentu

Keris di Berbagai Daerah

WilayahCiri Khas
Jawa Tengah & YogyakartaKeris berestetika tinggi, penuh filosofi
MaduraKeris panjang dan tajam, gagang ukiran khas
BaliKeris penuh simbol religius, sering digunakan dalam upacara
Sumatera (Palembang, Minangkabau)Keris dengan pengaruh Melayu dan Islam
Bugis (Sulawesi)Disebut "badik", bentuk dan fungsi mirip keris

Jenis-Jenis Pamor Keris Lengkap dan Maknanya

Klasifikasi Pamor Berdasarkan Bentuk

Pamor keris dikelompokkan menjadi 3 jenis besar:

  1. Pamor Tiban
    ➤ Terbentuk secara alami saat penempaan tanpa direkayasa
    ➤ Dianggap sebagai pamor "pemberian alam" atau "tanda alamiah"

  2. Pamor Rekan
    ➤ Dibuat secara sengaja oleh empu sesuai dengan desain tertentu
    ➤ Biasanya mengandung makna dan maksud spiritual atau filosofis

  3. Pamor Campuran
    ➤ Kombinasi antara pamor tiban dan rekan

Daftar Jenis Pamor Keris Populer dan Maknanya

Nama PamorMakna / Filosofi
Beras WutahKemakmuran, rezeki melimpah, rumah tangga harmonis
Udan MasSimbol kekayaan & rezeki tak terduga seperti hujan emas
Wos WutahHampir mirip dengan Beras Wutah, berarti kelimpahan
Raja Abala RajaKewibawaan, cocok untuk pemimpin
Pulo TirtaKesejukan batin, damai, penuh ketenangan
Tunggak SemiPertumbuhan, cocok untuk yang memulai usaha / karier baru
Lar GangsirPerlindungan dari gangguan halus atau serangan spiritual
Sodo Sak LerKeteguhan hati, kejujuran, teguh pendirian
Ron GenduruKarisma, daya tarik tinggi, sering dipakai tokoh masyarakat
Buntel MayitProteksi tinggi, anti gangguan gaib, mistik tinggi
Melati RinonceKecantikan, keanggunan, cocok untuk perempuan
Naga RajaKekuasaan dan kepemimpinan spiritual
Lintang KemukusPopularitas, keberuntungan, jodoh dan cinta
Luk Lima (pamor khusus)Simbol keseimbangan spiritual & duniawi
Sepelet UdangPenarik simpati, cocok untuk profesi sosial atau pelayanan
TepenKerendahan hati dan kesederhanaan
Pandan WangiAura harum, cocok untuk penjagaan diri dan daya tarik
Raja NagaKekuatan spiritual tinggi, biasanya digunakan oleh empu / dukun
AdegSimbol kestabilan, kejelasan niat dan ketegasan
Banyu MiliRezeki terus mengalir, kelancaran dalam usaha
Kendal SodoKeteguhan dan kekuatan dalam menghadapi rintangan
Batu LapakKesabaran, kekokohan mental

Ciri-Ciri Visual Pamor

Pamor memiliki bentuk visual yang berbeda-beda. Beberapa berbentuk:

  • Garis lurus (adeg)

  • Garis melingkar (ron genduru)

  • Butiran (beras wutah, udan mas)

  • Motif bunga, naga, bintang (pamor langka/khusus)

Setiap empu biasanya mencocokkan pamor dengan:

  • Watak calon pemilik (emosional, kalem, pemimpin, dll.)

  • Tujuan penggunaan (perlindungan, pengasihan, wibawa, dagang)

Catatan Penting

  • Tidak semua pamor cocok untuk semua orang.
    Dalam budaya keris, pemilihan pamor sebaiknya mempertimbangkan watak dan tujuan pribadi.

  • Pamor langka seperti Udan Mas, Naga Raja, Melati Rinonce, sangat bernilai tinggi karena sulit dibuat.

  • Keris dengan pamor asli dan utuh biasanya bernilai koleksi tinggi dan dihormati dalam budaya tradisional.

Tips Memilih Pamor Keris

  1. Tentukan tujuan: spiritual, perlindungan, usaha, kharisma, dsb.

  2. Kenali diri sendiri: introvert/ekstrovert, tenang/agresif.

  3. Konsultasi dengan ahli keris (pamorologi atau empu berpengalaman)

  4. Hindari memilih pamor hanya karena "cantik" – penting untuk sesuai secara energi & karakter.

Pamor keris bukan hanya keindahan visual, tetapi juga merupakan karya seni spiritual yang mengandung doa, harapan, dan filosofi hidup. Mengenal jenis-jenis pamor adalah langkah penting dalam memahami makna terdalam dari keris sebagai pusaka Nusantara.

Pengakuan Dunia terhadap Keris

Tahun 2005, UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai warisan budaya dunia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Pengakuan ini memperkuat posisi keris sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa Indonesia.

Kesimpulan

Keris bukan hanya senjata tajam, melainkan warisan budaya Nusantara yang sarat nilai seni, filosofi, dan spiritualitas. Setiap keris memiliki cerita, makna, dan karakter yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.

Sebagai generasi penerus, kita wajib mengenal, menghargai, dan melestarikan keris — bukan hanya sebagai benda, tapi sebagai simbol jati diri bangsa.

Arané Anak Kewan (Nama Anak Hewan) dalam Bahasa Jawa

Arané Anak Kewan (Nama Anak Hewan) dalam Bahasa Jawa. Berikut ini daftar "arane anak kewan" (nama anak hewan) dalam Bahasa Jawa, lengkap dengan nama induk dan anaknya. Sangat cocok untuk materi edukasi anak, pelajaran Bahasa Jawa di sekolah, atau kebutuhan konten budaya.


Arané Anak Kewan (Nama Anak Hewan) dalam Bahasa Jawa

Kewan (Hewan)Anaké (Anak Hewan)Bahasa Indonesia
Asu (anjing)CilukAnak anjing
KucingKithikAnak kucing
SapiPedhetAnak sapi
Wedhus (kambing/domba)CempeAnak kambing/domba
Jaran (kuda)BedhesAnak kuda
BebekMeritAnak bebek
Pitik (ayam)Cemeng / Pitik alitAnak ayam
AngsaBrongkolAnak angsa
Bajing (tupai)KilatAnak tupai
GajahGajah alit / GajilAnak gajah
Kebo (kerbau)Pedhet keboAnak kerbau
Macan (harimau)Macan alitAnak harimau
Ula (ular)Ula alitAnak ular
BantengPedhet bantengAnak banteng
KelinciKitiranAnak kelinci
Iwak (ikan)Larva / Cilik iwakAnak ikan
GagakGagak alit / Anakan gagakAnak burung gagak
MerpatiDara cilikAnak burung merpati
Entok (itik manila)Anakan entok / Entok cilikAnak entok

Contoh Kalimat Bahasa Jawa:

  • "Pitikku duwe anak cemeng loro."
    → Ayamku punya dua anak ayam.

  • "Pedhet iku anaké sapi wadon sing ngandheg minggu wingi."
    → Pedhet itu anak sapi betina yang melahirkan minggu lalu.

  • "Kucingku lagi ngopeni kithik papat."
    → Kucingku sedang merawat empat anaknya.

Catatan Penting:

  • Beberapa anak hewan dalam bahasa Jawa tidak memiliki istilah khusus, sehingga hanya disebut dengan kata "[nama hewan] alit" (hewan kecil).

    Contoh: gajah alit, macan alit, ula alit, dll.

  • Istilah bisa sedikit berbeda antar daerah (misalnya: cemeng di Jawa Tengah bisa disebut pitik cilik di daerah lain).

10 FILOSOFI HIDUP ORANG JAWA

SEPULUH FILOSOFI HIDUP ORANG JAWA. Begitu banyak ajaran budaya Jawa yang adi luhung dari para leluhur kita yang sudah sepantasnya kita uri-uri supaya tidak hilang karena tergerus perkembangan jaman yang serba modern.

10 FILOSOFI HIDUP ORANG JAWA
Nah sekedar untuk mengingat kembali atau sokor-skor bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita, berikut ini sepuluh (10) falsafah hidup leluhur Jawa yang dirangkum dari beberapa sumber:

 1. Urip Iku Urup
(Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik)


2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).


3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar) 


4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan) 


5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).


6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah ngambeg, jangan manja). 


7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi). 


8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka). 


9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat). 


10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)




ARANE GODHONG-GODHONGAN LAN KEMBANG - SINAU BASA JAWA

Sinau Boso Jowo - Arane Godhong-godhongan lan Kembang seng saiki mesti wes akeh  seng lali opo malah wes ora ngerti blas hehe....

Arane Godhong-godhongan lan Kembang

Arane Godhong-godhongan

Godhong Asem : Sinom
Godhong Aren : Dliring
Godhong Cocor bebek : Tiba urip
Godhong Dhadhap : Tawa
Godhong Gebang : Kajang
Godhong Gedhang enom : Pupus
Godhong Gedhang tuwa : Ujungan
Godhong Gedhang garing : Klaras
Godhong Jati : Jompong
Godhong Jambe : Dedel/Pracat
Godhong Jarak : Bledheg
Godhong Kates : Gampleng
Godhong Kluwih : Kleyang
Godhong Kacang brol : Rendheng
Godhong Kacang lanjaran : Lembayung
Godhong Kelor : Sewu
Godhong Krambil enom : Janur
Godhong Krambil tuwa : Blarak
Godhong Lombok : Sabrang
Godhong Lempuyang : lirih
Godhong Mlinjo : So
Godhong Pring : Elarmanyura
Godhong Pari : Damen
Godhong Randhu : Baladhewa
Godhong Siwalan : Lontar
Godhong Tela : Jlegor
Godhong Tales : Lumbu
Godhong Turi : Pethuk
Godhong Tebu teles : Momol
Godhong Tebu garing : Rapak
Godhong Waluh : Lomah lamah

Arane Kembang

Kembang Aren : Dangu
Kembang Blimbing : Maya
Kembang Cubung : Torong
Kembang Cengkeh : Polong
Kembang Duren : Dlongop
Kembang Dhadhap : Celung
Kembang Garut : Grameng
Kembang Gori : Angkup
Kembang Ganyong : Puspanyidra
Kembang Gembili : Seneng
Kembang Gedhang : Ontong/Tuntut
Kembang Jambe : Mayang
Kembang Jati : Janggleng
Kembang Jagung : Jeprak/Sinuwun
Kembang Jambu : Karuk
Kembang Jarak : Juwis
Kembang Kopi : Blanggreng
Kembang Kacang : Besengut
Kembang Kara : Kepek
Kembang Kencur : Sedhet
Kembang Kanthil : Gadhing
Kembang Kelor : Limaran
Kembang Kapas : Kadi
Kembang Kecipir : Cethethet
Kembang Kluwih : Onthel
Kembang Krokot : Naknik
Kembang Krambil : Manggar
Kembang Lombok : Menik
Kembang Lamtoro : Jedhidhing
Kembang Mlinjo : Kroto
Kembang Nangka : Babal
Kembang Pete : Pendul
Kembang Pandhan : Pundhak
Kembang Pace : Nyreweteh
Kembang Pring : Krosak
Kembang Pohong : Ingklik
Kembang Randhu : Karuk
Kembang Salak : Ketheker
Kembang Suruh : Drenges
Kembang Tales : Pancal
Kembang Tebu : Gleges

Kembang Timun : Montro

Arane godhong lan kembang liyane terusno dewe..hehe...... 

Legenda “Babad Tanah Jawa”

ADA satu kisah menarik dalam petilan “Babad Tanah Jawa”. Meskipun kisah ini merupakan petilan. Namun intisari yang tertanam di dalamnya, ternyata tetap masih aktual di saat ini sekali pun. Ketika itu, datanglah para ulama dari “Sebrang Lautan” (Mesir) ke Tanah Jawa. 

Tujuan para ulama utusan Sultan Mesir itu adalah untuk menyebarkan agama Islam, yang menurut laporan masih banyak penduduk Jawa yang kafir. Para ulama itu dipimpin seorang Syeh yang bernama Syech Subakir Sebelum Syech Subakir datang, telah beberapa kali ulama pendahulunya menginjakan kakinya di Tanah Jawa. Namun, setiap kali mereka datang, selalu gagal menyebarkan agama Islam. Mengapa?


Pertanyaan itulah yang berada di benak Syech Subakir. Dan tidak berapa lama setelah sampai ke Tanah Jawa, Syech asal Persia (Iran) itu berhasil mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tersebut. Ternyata, seluruh Tanah Jawa dari ujung Timur sampai ke Barat di jaga oleh bangsa jin yang dipimpin Sabdo Palon. Kegagalan para ulama sebelumnya adalah karena ulah mereka, para jin kafir yang tidak mau masuk Islam dan menentang Islam berkembang di Tanah Jawa. Untungnya, Syech Subakir menguasai ilmu tentang makhluk halus, sehingga dia dan para ulama yang dipimpinnya berhasil mengetahui keberadaan para jin tersebut.

Dalam wujud kasarnya, para mahluk halus itu ada yang berujud ombak yang besar yang mampu menenggelamkan kapal berikut penumpangnya. Juga angin puting beliung, dan sebagainya yang mampu memporak-porandakan apa saja yang ada dihadapannya, termasuk menjelma menjadi hewan buas, harimau, ular dan sebangsanya. Perubahan bentuk dan ujud itulah yang selama ini diduga mencelakakan para ulama yang bermaksud menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Maka kemudian terjadilah pertempuran yang dasyat antara para jin pimpinan Sabdo Palon dengan pasukan ulama pimpinan Syech Subakir.

Konon, pertempuran itu terjadi selama berhasi-hari, tanpa ketahuan siapa yang bakal memenangkannya. Karena melihat situasi yang tidak menguntungkan, maka Sabdo Palon mengajukan usulan gencatan senjata. Syech Subakir yang melihat itu sebuah peluang, menerima ajakan Sabdo Palon. Maka terjadilah kesepakatan antara keduanya. Isi kesepakatan antara lain, Sabdo Palon memberi kesempatan kepada Syech Subakir beserta para ulama untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa, tetapi tidak boleh dengan cara paksaan atau memaksa.

Kemudian Sabdo Palon juga memberi kesempatan kepada orang Islam untuk berkuasa di Tanah Jawa—Raja-raja Islam—namun dengan catatan. Para Raja Islam itu silahkan berkuasa, namun jangan sampai meninggalkan adapt istiadat dan budaya yang ada. Silahkan kembangkan ajaran Islam sesuai dengan kitab yang dakuinya, tetapi biarlah adapt dan budaya berkembang sedemikian rupa. Dan yang terpenting, jadi pemimpin janganlah terlalu lurus, namun juga jangan terlampau bengkok. Hal ini sempat dipertanyakan Syech Subakir kepada Sabdo Palon, mengapa seorang pemimpin tidak boleh benar-benar lurus. Dijawab Sabdo Palon, karena pemimpin itu menjadi pimpinan semua orang. Dan orang tidak semuanya lurus, pasti banyak pula yang bengkok. Lha, orang yang bengkok-bengkok itu akan ikut siapa, bila pemimpinnya lurus?

Benar tidaknya legenda tersebut, itulah sebuah kisah yang konon pernah terjadi dalam petilan “Babad Tanah Jawa”. Karena itu tidak mengherankan, jika banyak Raja Jawa, meskipun beragama Islam, namun tetap mereka menjaga kelestarian kebudayaan leluhur, seperti nyepi dan sebagainya. Lantas apa hubungan semua ini dengan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi? Secara langsung tidak ada, tetapi kita berharap bagian dari kisah atau legenda ini dapat terserap oleh Mendagri Gamawan. Mengapa? Karena ada beberapa aspek penting yang harus diketahui, dan perlu ditelaah. Beberapa waktu yang lalu, Gamawan membuat kejutan dengan kebijakan penghentian semua upah pungut. Kabarnya, usulan penghentian tersebut berasal dari usulan pejabat di lingkungan eselon II Depdagri.

Usulan itu mungkin bagus, jika ditinjau dari satu sisi. Namun ditinjau dari sisi lainnya, mestinya Mendagri perlu mengkaji lebih dulu. Apakah memang harus begitu, atau perlu cara lain yang lebih bermanfaat dan dapat diterima semua pihak. Sebab apa artinya, jika kebijakan itu sudah “dibunyikan” pada kenyataannya tidak dapat dipraktekan, karena banyak hal yang menghambat. Misalnya, ada seorang pembantu yang digaji pas-pasan, sementara si majikan meminta dia membeli makanan atau barang lain yang tempatnya cukup jauh tanpa memberi uang saku. Mungkinkah pembantu tadi akan melaksanakan perintah tersebut? 

Jawabnya ada beberapa kemungkinan : 

Pertama, jika dia adalah seorang pembantu yang bodoh dan patuh, pasti mau. Karena orang semacam ini tidak memperhitungkan untung rugi yang ada hanyalah kepatuhan. Pertanyaannya adalah mungkinkah semua orang akan berlaku seperti pembantu tadi?

Kedua, mungkin perintah tadi dilaksanakan sang pembantu, tetapi tidak dibelikan sebagaimana yang diminta sang majikan. Sebab kalau sesuai dengan perintah, maka mau atau tidak dia harus rugi mengeluarkan biaya untuk transportasi dan sebagainya. Sementara gaji yang diterima pas-pasan. Ketiga, mungkin tidak dilaksanakan, dengan resiko dimarahi, atau mungkin pula dilaksanakan dengan diberikan barang tiruan atau palsu. Pertanyaannya adalah apakah ini yang kita inginkan? Di banding departemen lain, Departemen Dalam Negeri (Depdagri) adalah yang paling belakang melakukan numerisasi. Mungkin untuk departeman lain, misalnya Depkeu, Menkeu dapat berlaku sebagaimana yang dilakukan Gamawan Fauzi. Karena gaji terendah karyawan Depkue tiga kali gaji karyawan terendah di Depdagri. Persoalan macam inilah apakah sudah dipahami atau belum?

Sabdo Palon mengatakan, pemimpin tidak mungkin lurus benar, juga tidaklah boleh bengkok-bengkok amat. Ini artinya, seorang pemimpin, termasuk Mendagri harus memahami situasi, mengerti sikap batin para karyawannya. Jika ini benar-benar dipahami dan dimengerti, maka kita yakin Gamawan Fauzi akan mendapat dukungan dari seluruh karyawan. 

Namun, jika tindakannya terlihat aneh dan dianggap tidak memahami sikap batin bawahannya. Maka jangan salahkan jika nantinya ditinggalkan para anak buahnya, dan itu jangan salahkan kepada karyawan. Hal-hal semacam inilah yang mesti diperhatikan, karena dengarlah kata semua orang, dan ambilah yang terbaik. Akhirnya, semoga sukses! 
OLEH: ARIEF TURATNO
(K@barNet)

Makna Ajaran Hidup Orang Jawa

Makna Ajaran Hidup Orang Jawa - Secara harafiah, “Wong urip iku mung mampir ngombe” dapat diartikan orang hidup itu hanyalah istirahat sejenak untuk minum. Meskipun ungkapan tersebut mempunyai arti yang sederhana tetapi makna yang terkandung sangat dalam. Untuk dapat memahami makna ungkapan itu kita dituntut untuk memahami kehidupan manusia secara menyeluruh. Dalam budaya Jawa kehidupan manusia dimulai semenjak tumbuhnya bayi dalam kandungan ibu kemudian setelah bayi dilahirkan ke dunia, dimulailah kehidupan yang sebenarnya dunia. Dengan kematian seseorang, yaitu berpisahnya roh dan wadag manusia, dimulailah kehidupannya di alam lain yang belum kita ketahui pasti. Pemahaman tentang tiga kehidupan ini biasa dimanifestasikan sebagai alam purwa, madya dan wasana. Makna ungkapan “Wong urip itu mung mampir ngombe” mengacu kepada alam madya, yaitu kehidupan setelah manusia dilahirkan di dunia.
Makna Ajaran Hidup Orang Jawa


Mengisi Kehidupan yang Sesaat
Seperti kita ketahui manusia terlahir di dunia ini berbekal empat sifat dasar yang mewarnai kehidupannya, yang sering diistilahkan dengan aluamah, sefiah, amarah dan mutmainah, atau yang biasa juga diistilahkan dengan nafsu angkara, amarah, keinginan dan perbuatan suci. Nafsu-nafsu tersebut timbulnya dirangsang oleh anasir-anasir yang ada di dunia ini dan masuk melalui paningal (mata), pengucap (mulut), pangrungu (telinga) dan pangganda (hidung).

Anasir alam yang masuk melalui mata berwujud nafsu keinginan akibat rangsangan sesuatu yang terlihat oleh mata. Anasir alam yang masuk melalui mulut berupa kata-kata kotor yang diucapkan oleh mulut. Anasir alam yang masuk melalui telinga berwujud suara yang tidak enak didengar oleh telinga dan menyebabkan seseorang marah, kasar dan mata gelap. Sedangkan anasir alam yang masuk melalui hidung berwujud tindakan-tindakan baik karena hidung tidak mau menerima bau-bau yang tidak enak. Dengan bekal empat sifat dasar hidup itu, manusia diwajibkan menguasai keempat nafsu yang melekat pada dirinya. Dengan kata lain, manusia harus menguasai ketiga nafsu yang dapat menimbulkan tindakan-tindakan yang kurang baik, yaitu aluamah, amarah dan sufah, dan mengutamakan nafsu yang dapat menimbulkan tindakan-tindakan baik, yaitu mutmainah. Menguasai di sini diartikan sebagai memelihara mengatur ataupun mengendalikan. Apabila manusia dapat memelihara mengatur serta mengendalikan keempat nafsu-nafsu tersebut akan menjadi manusia teladan dalam arti dapat diteladani oleh orang-orang disekitarnya karena tindakan-tindakannya selalu terpuji.


Sebaliknya apabila manusia tidak dapat memelihara mengatur serta mengendalikan keempat nafsu-nafsunya, orang tersebut akan menampilkan tindakan-tindakan yang tidak terpuji, sehingga ia dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya, oleh karena itu kehidupan di dunia yang hanya sesaat tersebut, yang dalam budaya Jawa diungkapkan istlah “wong urip iku mung mampir ngombe”, haruslah disibukkan dengan tindakan-tindakan memelihara, mengatur serta mengendalikan keempat nafsu manusia ini, sehingga kehidupan di dunia yang sifatnya hanya sesaat tersebut diisi dengan tindakan-tindakan terpuji, seperti tolong-menolong, mengasihi sesama, berbakti kepada nusa dan bangsa, saling hormat-menghormati, bermusyawarah untuk mencapai mufakat dan lain-lain. Dengan demikian apabila pada saat kematian, yaitu berpisahnya roh dan wadag manusia dapat diharapkan roh manusia tersebut akan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu causa pria segala kehidupan di dunia ini.


Selamat sampai Tujuan

Kehidupan di dunia ini dapat diibaratkan sebagai perang antara nafsu baik dan nafsu yang tidak baik. Agar manusia dapat memenangkan perang tersebut, sehingga pada saat kematian rohnya kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia harus dapat menempatkan hati nuraninya di atas nafsu. Dengan kata lain, hati nurani manusia haruslah menguasai nafsu. Jika hati nurani dikuasai oleh nafsu pada saat kematian roh manusia dapat kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bagaimana agar seseorang dapat menjaga hati nuraninya selalu berada di atas nafsu? Budaya Jawa mengajarkan agar seseorang selalu menjalani laku, seperti berpuasa dan lain-lain, sebagai latihan pengendalian diri sehingga dapat mengendalikan diri apabila timbul rangsangan untuk bertindak yang tidak baik. Selain itu budaya Jawa juga mengajarkan agar seseorang selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga selalu mendapatkan terang dari-Nya yang akan menyebabkannya dapat berpikir secara jernih dan bersih.


Tujuan hidup manusia adalah selamat di dunia maupun di alam kelanggengan. Untuk dapat mencapai tujuan itu manusia dituntut untuk terus menerus berjuang menegakkan kebenaran. Dalam kehidupan di dunia yang sesaat, manusia harus dapat mengisinya dengan tindakan baik. Oleh karena itu budaya Jawa selalu mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara sifatnya. Peringatan tersebut diungkapkan dalam istilah “wong urip iku mung mampir ngombe”. Apabila seseorang selalu ingat akan hal ini dan mengisi kehidupan sesaat dengan tindakan baik, maka dapatlah diharapkan tujuan hidup seseorang akan tercapai, yaitu selamat di dunia maupun di alam kelak nanti.


Aja dumeh mujudake pitutur luhur warisane para leluhur lan pinisepuh kang ngemu teges supaya jalma manungsa utawa titah sewantah anggone nglakoni penguripane ana ing alam donya ora ngendelake aji mumpung. Dumeh, mujudake kahanan kajiwan kang njalari sawijining pawongan nggunakake kesempatan(aji mumpung) kanggo kepentingane dhewe tanpa ngelingi sak padhane urip. Kesempatan kasebut ing ndhuwur bisa maujud drajat, pangkat, bandha donya, panguwasa, ilmu linuwih, kebagusane rupa lan liyane.

Ing donya Eropa utawa dunia barat uga nduweni sanepa “power tends to corrupt” kang nduweni teges yen kuwasa bisa njalari wong kang nyekel kuwasa kuwi nylewengake kekuwasaane kanggo kepentingane pribadhi lan ngianati marang wong kang ngamanati .
Wong urip mono kudu tansah eling marang kang nitahake urip ing alam donya, kudu tansah mawas marang sangkan paraning dumadi. Seko ngendi bibit kawite urip, ana ngendi saiki dumunung lan papan ngendi kang tembene bakal dituju. Kahanan kang bisa direngkuh ora kena njalari lali marang kodrate minangka kawulane Gusti. Kanthi mengkono sifat aja dumeh bisa njalari wong tansah eling marang asal-usule, sahengga ora nglali yen apa kang diduweni mung minangka titipan utawa amanate kang gawe urip. Sikep ini bisa nyurung supaya manungsa tansah nyukuri peparingane Gusti, kanthi nggunakake peparingane mau kanggo nyengkuyung kewajibane minangka khalifahe Gusti ing alam donya, kang nduweni kewajiban memayu hayuning bawana.
Kahanan urip kang dilakoni manungsa kena digambarake kaya dene cakramanggilingan utawa rodha kreta, kang ana sakperangane rodha sakwijining wektu mapan ing dhuwur nanging ing kala wektu liyane ganti mapan ing ngisor. Urip mujudake ganti gumiliring nasib. Mula saka kuwi nalikane wong lagi nduweni nasib kang apik ora kena gumedhe lan umuk marang sak padha-padha lan nalikane ngalami nasib kang ala uga aja nglokro utawa mutung.
Kadangkala wong urip diparingi kanikmatan kang tanpa kinira. Ana ing kahanan iki pitutur aja dumeh trep banget kanggo diamalake. Wong kudu tansah syukur lan uga kudu loma marang sak padhaning urip, ora kena umuk lan gumedhe nanging kudu tansah bisa sakmadya lan andhap asor.
Ana uga kahanane urip kang lagi diparingi pacoban nganti kadangkala wong sing rumangsa ora kuwat nglakoni kahanan mau nduweni panganggep yen donyane wis kiamat. Ngadepi kahanan mengkene, manungsa kudu tansah pasrah sumarah marang kang gawe urip lan sabar anarima ing pandum. Manungsa kudu nduweni keyakinan yen pacoban mau uga mujudake wujud katresnane Gusti kanggo nggembleng manungsa supaya tatag lan tanggon anggone nglakoni uripe.
Aja dumeh ngajarake manungsa tansah mawas diri lan nduweni keyakinan kang kuat menawa urip ing alam donya iki mung sakwetara mampir ngombe. Kabeh lelakone urip mujudake proses kang ora langgeng lan kabeh bakale dijaluk pertanggungjawabane mbesuk ing alam akherat.
Sifat utawa watak aja dumeh bisa diwedhar kanthi pitutur kayadene:

1. Aja dumeh kuwasa, tumindake daksura lan daksiya marang sakpadha-padha.

2. Aja dumeh pinter, banjur tumindak keblinger.
3. Aja dumeh sugih, banjur tumindak lali marang wong ringkih.
4. Aja dumeh menang, tumindake sak wenang-wenang.
5. Aja dumeh bagus, banjur gumagus.
6. Aja dumeh ayu, banjur kemayu, lan sakpiturute.

“Nyawa mung gaduhan, bandha donya mung sampiran”, mengkono pituture para winasis. Kanthi mengkono sejatine manungsa urip ing alam donya ora duwe apa-apa. Kayadene nalika dilahirake manungsa ora nggawa apa-apa, smono uga mengko yen wis tumeka titi wancine sowan ing ngarsa Gustine uga ora sangu apa-apa. Dadi apa kang bisa diumukake manungsa? 

Kumpulan Ular-ular Jawa (Nasehat)

Kumpulan Ular-ular Jawa (Nasehat bahasa Jawa) Sapa sing salah bakal Séléh -
Orang yang salah akan ketahuan juga


  • Sapa sing salah bakal Séléh -
    Orang yang salah akan ketahuan juga
  •  
  • Adigang adigung adiguna -
    Mengandalkan kekuatan, kebaikan dan kepintaran
  •  
  • Jer Basuki Mawa Béa -
    Segala sesuatu butuh biaya
  •  
  • Rawé rawé rantas malang malang putung -
    Siap menghadapi segala rintangan untuk mencapai cita-cita
  •  
  • Gliyak-glitak tumindak, saréh pakoléh -
    Walaupun perlahan-lahan tetapi tercapai apa yang dikehendakinya
  •  
  • Kacang ora ninggal lanjaran -
    Tingkah anak tidak beda dari orang tuanya
  •  
  • Kakéhan Gludhug kurang udan -
    Kebanyakan Omongan tidak ada tindakannya
  •  
  • Kuthuk nggéndhong kemiri -
    Melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan
  •  
  • Pupur sadurungé benjut -
    Berhati-hati mumpung belum celaka
  •  
  • Sabar saréh mesti bakal pikoléh -
    Berbuat sesuatu jangan terburu-buru
  •  
  • Yitna yuwana mati léna -
    Orang yang hati-hati akan selamat orang yang sembrono bakal celaka
  •  
  • Ajining Diri saka lathi - Ajining Salira saka Busana
    Bagusnya orang bisa dilihat dari tutur kata dan Pakaiannya 
  •  
  • Mangga sami dipun lajengaken....
Kumpulan Ular-ular Jawa Nasehat bahasa Jawa (dari beberapa sumber)
 

Kerata Basa Jawa

Kerata Basa Jawa - Miturut ilmu bahasa, ana tembung kang dadi tembung amarga bunyi utawa suarane kang krungu, lan artine. contone tekek, jenenge tekek mergo suarane tekek..tekekk.. Tas kresek, mergo suarane kresek-kresek, lan sak panunggalane. Wong jawa malah luwih cerdas maneh ngartike tembung iku kanthi ngawur, sak-sake, nanging pas banget karo artine tembung kuwi. contone wong jawa ora ngomong “nasi”, nanging sega, amarga sega kuwi mbeseSEG dan marakke leGA.

 
Conto liyane Kerata Basa Jawa :

gedhang : digeget sakbubare madhang,
kerikil : keri nang sikil
malah ana ing teknologi, wong jawa uga nggawe kerata basane, contone :
Sepeda : asepe tidak ada
Sepur :asepe metu ndhuwur
Ana maneh conto kang ana hubungane karo masalah agama:
ndilalah : Adiling gusti Allah
Ndelalah: ngandel marang Allah (percaya marang Tuhan)
Ana uga plesetan-plesetan kang ana di-kerata basa-ke:
Garwo : sigaraning nyawa (asline), njur diplesetke dadi “ketemune barang sigar karo barang dowo
kerikil : keri nang sikil, njur ana sing takon, “lha yen keripik”??… keri-keri ning…..(ning apik..)
conto liyane yaiku :
Bapak = bab apa-apa pepak (pepak kawruh lan pengalaman)
Batur = embat-embataning tutur
Bocah = mangane kaya kebo, pagaweane ora kecacah
Brekat = mak breg diangkat
Cangkir = dianggo nyancang pikir
Cengkir = kencenging pikir
Copet = ngaco karo mepet-mepet
Denawa = ngeden hawa (nguja hawa napsu)
Desember= gedhe-gedhene sumber
Garwa = sigaraning nyawa
Gedhang = digeget leh bar madhang
Gethuk = yen digeget karo manthuk-manthuk
Gerang = segere wis arang
Guru = digugu lan ditiru
Gusti = bagusing ati
Kaji = tekade siji (ngantebi panembahe marang Gusti Allah)
Kathok = diangkat sithok-sithok
Kodhok = teka-teka ndhodhok
Kutang = sikute diutang
Krikil = keri ing sikil
Kuping = kaku njepiping
Kupluk = kaku tur nyempluk
Kursi = yen diungkurake banjur isi
Ludruk = gulune gela-gelo, sikile gedrag-gedrug
Maling = njupuk amale wong sing ora eling
Mantu = dieman-eman meksa metu
Perawan = yen pepara (lelungan) kudu wayah awan
Saru = kasar tur kleru
Sekuter = sambi sedheku mlaku banter
Sepuh = sabdane ampuh
Simah = isining omah
Sirah = isining rah
Siti = isi bulu bekti
Sopir = yen ngaso mampir (ing warung)
Sruwal = saru yen nganti uwal
Tandur = nata karo mundur
Tapa = tatane kaya wong papa
Tarub = ditata supaya katon murub (asri)
Tayub = ditata supaya katon guyub
Tebu = antebing kalbu
Tepas = titip napas
Tuwa = ngenteni metune nyawa ; untune wia rowa
Wanita = wani ing tata
Wedang = dianggo gawe kadang
Weteng = ruwet tur peteng

Nha, kowe kabeh uga bisa nggawe seko ukara lan tembung-tembungmu dhewe..
Ayo nggawe sakkarepmu dhewe.. guyon maton lan guyon waton.. bebas nang kene… sumangga...



© Copyright Since 2011 JURUGAN INFO TERBARU 2026 | All Right Reserved | Supported by: MENOREH MEDIA